Seven More to Go

Tujuh minggu lagi, Insya Allah, aku akan resmi menjadi ibu. Tapi, rentang waktunya juga bisa berubah. Tidak lagi tujuh minggu, tapi enam, lima atau bahkan empat minggu lagi. Normalnya, proses melahirkan berlangsung setelah kehamilan memasuki usia 40 minggu. Kalau anak pertama, biasanya tepat waktu, atau malah molor. Kalau kedua dan berikutnya, bisa lebih cepat. Tapi, meskipun akan melahirkan anak pertama, aku punya sejarah pendarahan yang memungkinkan si kecil untuk lebih cepat datang dan melihat dunia.

Dan aku benar-benar menunggu saat itu tiba. Belajar bersama sosok mungil yang sejak muncul pertama kali di hidupku dalam bentuk embrio lalu berkembang menjadi janin, sudah banyak mengajariku. Belajar untuk tidak egois, untuk pasrah dan ikhlas, untuk lebih bisa berkompromi dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Sebab, masa penantian yang berlangsung hingga jelang sembilan bulan, tidaklah mudah. Setiap hari khawatir apakah aku akan melakukan kesalahan yang akan mempengaruhi hidupnya? Atau apakah aku sudah memberikan asupan nutrisi yang bagus agar dia bisa berkembang sempurna? Dan masih banyak kegelisahan lainnya. Kalau sudah begitu, tidak ada jalan lain kecuali berusaha yang terbaik lantas pasrah dan berserah diri.

Akhir pekan lalu, aku juga sempat mendadak memeriksakan diri di luar jadwal kontrol. Gara-garanya, tubuh terasa lemas dan seperti mau pingsan. Setelah diperiksa, kadar gula serta hemoglobin terlalu rendah. Ini salahku sendiri. Ketika periksa terakhir, kenaikan berat badanku berlebihan. Untuk perempuan yang tergolong obesitas seperti aku, sebelum hamil BB 70 kilogram dan TB 156 cm, kenaikan maksimal selama hamil hanya 9 kilogram. Tapi ketika masuk bulan kedelapan, aku naik 10 kilogram. Dokter pun memintaku mengatur pola makan karena kalau tidak, ada bahaya preeklampsi yang berujung kematian bayi, mengancam kondisiku. Atau diabetes gestasional yang bisa membuat bayi terkena diabetes sejak lahir. Dan ini kuterjemahkan dengan diet secara ekstrim karena aku sangat sangat takut kehilangan sosok yang ada di rahimku saat ini. Efeknya, itu tadi, kondisiku langsung drop.

Sekarang sih aku gak lagi diet gila-gilaan. kembali makan seperti biasa tapi dengan porsi yang lebih kecil dan memperbanyak buah. Entah itu dimakan langsung atau dijus. Dan lagi-lagi pasrah. Semoga dibri kesehatan dan kelancaran hingga proses melahirkan nanti.

Advertisements

PKB dan Samsat

Terus terang, saya salut dengan Samsat yang mau membuat terobosan dengan membuka konter di mal atau drive thru untuk melayani masyarakat. Sudah beberapa lama pula saya memanfaatkannya untuk membayar pajak kendaraan bermotor (PKB). Tapi tadi pagi, karena dengan pertimbangan jarak kantor Samsat Ketintang Sraten yang dekat dengan kos, saya memilih membayar PKB di sana. Ternyata, lumayan ribet dibandingkan pengalaman saya membayar PKB di Samsat Payment Point di komplek Taman Budaya Jatim (TBJT) atau konter Samsat di Royal Plaza.

Kalau di TBJT atau Royal Plaza, kita langsung menyerahkan BPKB, KTP dan STNK (semuanya asli), terus menunggu untuk dipanggil, bayar, beres. Tapi di kantor Samsat, kita harus lewat lima meja.

Yang pertama ke meja pengambilan formulir. Ambil formulir untuk menulis nama, alamat, nopol dan tanda tangan. Tidak ada biaya alias gratis untuk lembaran formulirnya. Tapi formulirnya harus ditaruh di map. Kalau sudah bawa map sendiri tidak masalah, kalau enggak, bisa beli di sini seharga Rp 2000. Itu dapat map plus plastik STNK. Setelah itu, menuju meja informasi. Di sini, kita mengisi formulir kemudian serahkan ke petugas yang memisahkan KTP, BPKB, STNK dan formulir, lantas menempelkannya dengan streples ke map. Lalu menuliskan nopol di bagian depan map. Meja ini optional. Kalau sudah pengalaman, gak perlu kesini lagi. Next, menuju meja pendaftaran 1. Petugasnya akan menyobek sebagian dari formulir, ngasih stempel dan tanda tangan di bagian depan map. Sobekan formulir diserahkan kita sebagai bekal untuk geser ke meja pendaftaran 2. Di sini petugas akan memasukkan data dan mengembalikan KTP dan BPKB. Lanjut ke meja kasir. Sesuai namanya, kita menyerahkan uang sejumlah PKB yang harus dibayar. Petugas akan menyerahkan kuitansi pembayaran PKB. Kita lantas geser ke meja sebelahnya untuk mengambil STNK yang sudah di stempel dan di tandatangani. Proses pembayaran PKB selesai.

Jika dilihat, pembayaran PKB di kantor Samsat bakal lebih mahal, setidaknya dari segi waktu yang terbuang, plus tambahan biaya untuk pembelian map dan plastik yang mungkin tidak urgent. Satu hal lagi, pengguna layanan kantor Samsat tidak bisa antre. Entah kenapa. Kalau di mal, antrean bisa memanjang rapi, tapi kalau di sini, semuanya berdesak-desakan di depan meja. Untung, para petugas yang perempuan, ramah dan sabar jadi bisa sedikit meredam kekesalan karena harus geser-geser ke banyak meja.

 

Mendadak Jadi Dokter

Semua orang bakal mendadak jadi dokter kalau tahu kita sedang hamil. Kalau dia bukan dokter, jangan dengarkan. Begitu pesan dokter kandungan ketika saya mengkonfirmasi informasi yang saya peroleh dari salah seorang teman tentang apa yang boleh dan tidak boleh dimakan selama hamil.

Apa yang disampaikan dokter kandungan saya itu memang sangat benar. Selama hamil, dari awal sampai hingga sekarang tujuh bulan, begitu banyak nasehat yang masuk. Semua perempuan yang pernah hamil, mendadak jadi orang yang paling berpengalaman. Memberikan nasehat ini dan itu untuk menghadapi kehamilan. Sebagai ibu baru, kita kadang tergoda untuk percaya dan mencobanya.

Padahal, itu sangat fatal. Kondisi setiap perempuan berbeda. Hamil atau tidak, tuhan menciptakan manusia dengan keunikan masing-masing. Maksudnya dengan kondisi dan kapasitas organ vital yang tidak sama. Perempuan A mungkin memiliki rahim yang kuat, sedangkan B memiliki rahim yang sangat rapuh. Sedikit guncangan saja, bisa membuat janin yang dikandungnya luruh. Atau perempuan C, rahimnya kuat, tapi pembuluh darah yang terhubung ke janin, bermasalah hingga asupan nutrisi ke janin, tidak maksimal.

Yang ingin saya sampaikan adalah ada banyak informasi di luar sana. Boleh saja menerimanya. Tapi jangan membabi buta melaksanakannya. Kumpulkan semuanya. Cari konfirmasi. Bisa dengan membaca puluhan atau ribuan artikel tentang kesehatan yang ada di internet. Lalu, konfirmasi ulang ke orang yang memang punya ilmu dan penglaman. Siapa lagi kalau bukan dokter kandungan yang menangani kita. Mereka yang tahu kondisi dan apa yang terbaik untuk kita. Jangan ragu juga untuk bertanya. Sedikit rewel tak apa. Toh itu hak kita sebagai pasien.

Merindukannya

Berawal dari obrolan sederhana bersama seorang teman. Tentang nama untuk sosok yang saat ini tengah berada di rahim saya. Dan tiba-tiba saja, air mata menetes karena kerinduan yang teramat sangat pada orang yang telah tiga tahun lebih meninggalkan keluarganya. Ayah.

Any itu berasal dari ain, artinya mata. Kalau Rufaidah itu inspirasinya dari kata faedah artinya bermanfaat. Ayah ingin kamu jadi mata yang bermanfaat bukan buat diri sendiri, tapi orang lain. Begitu ayah bilang ketika saya tanya apa arti nama yang dipilihnya untuk anak keduanya tersebut. Jadi kalau ada yang bilang apalah arti sebuah nama, dia mungkin belum pernah bertanya pada orang tuanya atau si pemberi nama.

Dan ketika saya punya kesempatan untuk melihat bagian lain dari dunia, bukan hanya kota tempat saya lahir dan besar, kota tempat saya mengais rupiah, atau kota yang akan saya tinggali nanti bersama keluarga baru, ayah tersenyum bangga. Tapi itu tak pernah dikatakan pada anaknya yang sangat jarang menelepon untuk sekedar bertanya kabar.

Sahabat ayahnyalah yang bercerita, betapa dia bangga. Sebagai petugas kontrol karcis beristrikan penjahit di kampung, dia punya anak yang bisa melihat sebagian kecil negara-negara tetangga yang hanya dikenalnya melalui dunia dalam berita atau sederet cerita di surat kabar. Sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya.

Cerita itu, yang disampaikan penuh haru, mengalir dengan lancar dari bibir sahabat ayah, saat dia berkunjung ke rumah saya untuk bertakziah. Dia datang segera setelah ayah tidak kuat lagi melawan kerusakan beberapa organ tubuhnya setelah setahun lebih terkena stroke.

Proyek Antimalas. Day 10

Uji Coba

Ini posting pertama saya menggunakan HP. Tepatnya sony Ericsson W880i. Kalau berita, sudah tak terhitung lagi yang saya hasilkan dengan cara mengetik di HP ini. Biar speaker luarnya rusak, saya tetep cinta mati sama dia. Malah kalau boleh dibandingkan, dia jauh lebih oke daripada LG Optimus dengan sistim android yang setahun ini juga menemani saya. Ternyata jempol saya yang jauh dari ukuran mungil tak bisa berkawan dengan touchscreen atau qwerti. Jika ingin diurut, banyak sekali keunggulan HP berbentuk candybar ini. Yang pertama, saya bisa ber-sms hanya dengan satu tangan. Sehingga tangan satunya bisa mengerjakan yang lain alias multitasking. Kedua, jaringan internetnya tidak bisa otomatis menjalankan sinkronisasi beberapa akun saya di jejaring sosial. Artinya saya hemat pulsa internet. Yang ketiga, dia terbukti tahan banting. Kecemplung kobokan atau terlindas motor tak mampu membuatnya tewas. Soal bentuknya yang tak sesuai tren. Tak masalah bagi saya. Yang penting fungsi bukan gengsi.

Proyek Antimalas. Day 9

Thank you

Ketik satu kata, dua kata. Hapus. Ketik satu kata dua kata. Hapus. Itu yang saya lakukan malam ini ketika ingin membuat tulisan tentang orang-orang yang selama ini menjadi teman terbaik dalam hidup. Saya benar-benar tidak tahu kata-kata apa yang tepat untuk menceritakan betapa hebatnya mereka. Kapan saja, mereka menyediakan jarinya untuk membalas pesan saya berisi pertanyaan atau curhatan tidak penting. Merelakan salah satu telingnya kepanasan untuk menerima telepon saya. Tidak sayang membuang pulsanya sejumlah rupiah untuk menghubungi dan menghibur saya saat gundah gulana. Atau jauh-jauh datang ke rumah sakit, melewati semua kemacetan, menilap sedikit jam kerja untuk memastikan saya baik-baik saja.

Saya cinta mereka. Saya cinta dengan kesabaran mereka. Keterusterangan mereka. Keganasan mereka saat saya mulai membandel dan tidak mau mendengarkan kata-kata mereka. Meski begitu, semarah apapun, mereka akan merentangkan tangan, memeluk, lantas menepuk punggung saya dan meyakinkan semua akan baik-baik saja. Mereka adalah manusia. Tidak selamanya hubungan kita baik. Kekurangajaran saya tak jarang melewati batas toleransi mereka. Tapi rasa sayang yang lebih besar hingga maaf, pemakluman, bisa langsung muncul dari hati mereka. Yang saya tahu, saya cinta mereka. Dan menyayanginya seperti keluarga.

The language of friendship is not words but meanings.
– Henry David Thoreau –

Proyek Antimalas. Day 8

Selamat Datang

Emaaaaaak. Sumpah saya benci diri sendiri karena bikin proyek ini. Menulis setiap hari itu sulit kakaaak. Apalagi baru bisa buka netbuk kalau sudah pulang kantor. Itupun sambil ditemani dengan suara protes swami. Maklum, beda jam kerja. Kita baru ketemu kalo saya pulang kantor. Which is jam 9-10 malam dan dia sudah teler karena ngantuk. Hehehe.

Anyway, sekarang ini saya lagi seneng banget-banget. Ada makhluk mungil yang bakal tumbuh bareng saya, sampai dia benar-benar melihat dunia sembilan bulan lagi. Rasanya lucu dan aneh di badan. Kata dokter, itu normal karena hormon saya lagi berantakan. Dengan adanya anggota baru, tubuh melakukan banyak penyesuaian dengan mengeluarkan hormon ini dan itu. Jadi bakal ada aja keluhannya. Yang paling terasa sekarang adalah perut kembung, sering sendawa plus buang angin. Ini sih tergantung masing-masing individu. Ada yang ketambahan morning sickness, ada juga yang enggak. Biasanya, setelah bulan ketiga, tubuh sudah bisa merasa nyaman. Jadi keluhan akan sedikit berkurang. Apapun itu, saya suka dan rela demi si kecil yang sudah ditunggu lama.

Cuman, saya agak sedikit khawatir karena ada riwayat keguguran. Takut kalau si kecil sudah pengen keluar sebelum waktunya. Tapi dokter bilang saya nggak boleh khawatir atau stress, nanti mempengaruhi pertumbuhan si kecil. Kalau bisa, nggak boleh capek dan perasaannya juga dijaga biar seneng terus. Hmm, berarti saatnya menjadwalkan karaoke, nonton dan ngemol. Yippie. Kita hore hore bareng ya nak. Ikut nggosip sama geng ngibul juga. Hahaha. Semoga kamu betah berdua-duaan terus sama ibu.