Proyek Antimalas. Day 3
August 20, 2011 2 Comments
Becoming Darjorian. Soon
Aaaak. Sudah hari ketiga aja. Mata udah sepet sebenarnya. Tapi demi menjaga konsistensi, menulis harus jalan terus. Kenapa juga saya memulai proyek ini *tepok jidat*. Baiklah mari kita mengumpulkan kemauan dan semangat menulis.
Belakangan ini saya dan suami lagi beberes rumah mungil yang Insya Allah akan kami tempati akhir tahun nanti. Artinya kami akan segera menjadi Darjorian alias warga Sidoarjo. Sebenarnya separuh Darjorian sih, mengingat sebagian besar waktu kami akan dihabiskan di Surabaya untuk bekerja. Palingan kami berada dikota yang dipimpin Bupati Syaiful Ilah itu hanya untuk tidur dan mandi pagi. Plus mandi sore. Kalau nggak males.
Nah, saat beberes inilah saya menemukan bahwa printilan rumah itu ternyata cukup menguras kantong. Mulai dari sendok sayur, mangkuk, teko dan teman-temannya. Kalau dibeli secara barengan, maka jumlahnya lumayan juga. Apalagi printilan yang satu ini. Eh, sebenarnya dia bukan printilan sih karena dia berukuran besar. Tapi dia juga bukan perabotan. Tapi kalau tidak ada dia, rumah bakal terlihat telanjang. Apakah dia? Yak benar. Dia adalah gorden. Ada yang bilang korden, gordyn, tirai atau tabir. Tapi kalau menurut bahasa Indonesia sih gorden.
Beberapa teman sudah memperingatkan jika benda yang satu ini mahal juga. Tapi saya berhasil mendapat rekomendasi seorang pedagang yang harganya miring. Tadi siang kami janjian. Dan saya agak menyesal karena dia sedang hamil 8 bulan dan harus nyasar-nyasar sebelum sampai ke rumah saya. Keyakinan jika saya tidak akan membayar mahal muncul karena jendela rumah saya tidak terlalu lebar. Tapi setelah lebar kain dikali jumlah plead, ditambah bagian lipatan, dan sebagainya, nominal senilai separo gaji saya pun muncul di kalkulator mbaknya. Ouch.
Seorang teman bilang, rumah itu adalah setan. Sebab, dia tidak akan pernah berhenti menuntut perhatian, baca: uang, dari kita. Sudah beli sofa, eh kayaknya lucu dikasih karpet, sudah beli karpet, eh ditambah standing lamp keren juga. Dan sebagainya. Sekarang saya mulai agak percaya kalau ucapan teman itu benar juga. Hiks.
nggak usah langsung dibikin komplit toh interoirnya, dicicil sitik sitik ae barang2e mbak… semoga barokah dan jadi rumah yg bikin ati tentrem. aamiin…
hahaha. amiiiin. iyoh mi, iki nyicil, tapi kok yoh keroso. mbiyen kan gak tau tuku dewe. nunut orang tua. tau beres. hehehe.