Posted by: any on: July 18, 2009
Gak tau nih, rasanya belakangan ini aku aneh. Aku membenci teman-temanku. Padahal mereka tidak salah apa-apa. Mereka biasa saja dan bersikap normal. Tapi nggak tahu. Rasanya eneg. Kenapa ya? Bahkan sama mereka yang sudah kuanggap seperti sodara sendiri aja, aku malas berbicara. Kalaupun ngomong, aku cenderung kasar. Pun sama keluarga. Kalau ada telepon dari rumah, aku males banget ngangkatnya. Duuh. Kenapa sih aku ini. Apakah ini tanda-tanda aku mulai gila?
Posted by: any on: June 9, 2009
Maafkan aku ya blog. Sudah lama kamu ndak tak apdet. Sebenarnya niat sih, tapi suka keburu males. Bayangin aja, ada enam tulisan tak terselesaikan di draft kamu. Hehehe. Kayaknya aku lebih asik ngeblog di fesbuk meski situs itu diblok sama admin IT kantor. Coba deh. Ini tulisan kan sampe beres, berarti aku masih bisa nulis di kamu. Ntar besok tak coba nulis lagi yaa.
Posted by: any on: March 29, 2009
Sambil gemetar, tangannya yang keriput mengangkat kamer Ricoh KR5 yang bagian bawah kanannya, bertempelkan isolasi hitam. “Van, Evan lihat sini,” katanya sambil mendekatkan lubang fokus kamera ke mata kirinnya. Bersamaan dengan hitungan ketiga, Evan yang dipangku sang papa, tersenyum. Tak lama kemudian, pria dengan topi model koboi yang usianya pasti sudah tahunan itu berteriak. “Yak sudah.”
Pria yang menenteng kamera itu bernama Abdul Manan. Aku dan sebagian besar tetangga di kampung menyebutnya Wak Dul. Dia adalah fotografer keliling yang menjajakan jasanya sejak 1970 tahun. Tadi, ketika menimba air di tandon tetangga sebelah gara-gara air PDAM mati sebulan, aku dan kakakku melihatnya lewat di kampung. Dulu, ketika masih TK, kami berdua pernah difoto olehnya. Sekarang, kami ingin bernostalgia dengan kembali memintanya memotret kakakku, dengan Evan, anaknya yang sebentar lagi berulang tahun yang kedua.
Sebelum memberinya selembar sepuluh ribuan sebagai imbalan atas jasanya, kami memintanya duduk. Dengan suguhan aqua gelas dingin, kami memintanya bercerita tentang perjalanan hidupnya. “Dulu saya sempat kerja di pabrik, tapi ndak kerasan. bosnya mentang-mentang,” kata pria berusia 70 tahun itu. Karena tidak suka, dia mengundurkan diri dan menjadi fotografer keliling karena waktu itu, bisnis ini menjanjikan. Tidak banyak orang yang punya kamera. Apalagi kamera digital atau kamera handphone. Meski tidak ada pemasukan tetap, profesi barunya bisa membuatnya hidup tenang bersama istri dan keenam anaknya.
Kini, anak-anaknya sudah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri. Tapi Pak Dul tetap setia dengan profesinya. Pagi-pagi, kakek tiga cucu itu meninggalkan rumahnya di Karang Turi, berjalan menjajakan jasanya dari satu kampung ke kampung lainnya. Pria yang selalu mengenakan kaos abu-abu itu mengaku lebih suka bertahan dengan kamera Ricoh yang kini dibawanya. Dia sempat mencoba kamera digital. Tapi tidak suka. Tidak fokus katanya. “Kalau kamera digital, kalau motret orang, lubang hidungnya bisa jadi empat,” ujar pria asli Gresik itu. Yah, mungkin dia tidak tahu tentang kamera dlsr dengan lensa beraneka ragam seperti milik fotografer di tempatku bekerja. Tapi tak apalah, aku tak mau membantahnya.
“Kalau sekarang, orang banyak yang punya kamera. Paling sehari saya cuma bisa dapat lima. Tapi kalau ada mantenan lumayan, satu rol saya hargai Rp 250 ribu,” katanya sambil meraih gelas aqua dingin lantas memasukkannya ke tas kamera. “Wis dilakoni ae mbak. Saya tak keliling lagi. Nanti fotonya jadi lima hari lagi, tapi kalau tiga hari sudah jadi, saya antar kesini,” janjinya sambil mengulurkan tangan untuk menjabat. Kami tersenyum dan menyerahkan lembaran sepuluh ribuan. Seperti apa hasil foto Evan nanti, tidak lagi jadi perhatian. Yang penting kami senang, bisa bernostalgia dengan orang yang pernah menjadi perekam salah satu episode kehidupan kami.
Posted by: any on: March 21, 2009
Apakah aku atau dia berkata sebenar-benarnya? Ataukah itu hanya basa-basi karena tidak ada pilihan? Apakah kita benar-benar saling peduli? Atau itu hanya satu dari ribuan topeng yang kita pakai?
Mengapa manusia selalu merasa lebih baik jika ada orang yang berada di bawahnya? Kenapa kita harus bersyukur saat tahu bahwa ada orang lain yang hidupnya lebih susah? Kenapa kita tidak bisa bersyukur atas apa yang ada tanpa harus membandingkan dengan yang lainnya? Kenapa harus alhamdulillah kita bisa naik gaji sementara yang lain belum bekerja? Bukannya lebih baik jika hanya alhamdulillah atas kenaikan gaji yang kita terima?
Posted by: any on: March 16, 2009
Sebelumnya, maafkan atas kualitas foto yang jelek ini. Mungkin teman-teman pecinta fotografi bisa eneg melihat gambarnya kabur-kabur begitu. Maklum, diambil dari kamera henpon soner w880i milik saya. Juga, maafkan atas kemunculan jempol tangan kiri yang, masya allah, gede banget ya. Hehehe. Baiklah, ke pokok masalah saja.
Tadi siang, saya lagi asik tidur-tiduran waktu seorang bocah kecil berteriak lalu menyerahkan undangan untuk ibu saya. Isinya, mengharap kehadiran ibu dalam sebuah pesta pernikahan di rumah salah satu tetangga di kampung sebelah. Biasalah. Fisik undangan juga standar. Selembar kertas yang ketebalannya mirip kuarto warna ijo. Ukurannya sekitar 20 cm kali 15 cm. Dengan tulisan warna ijo juga, tapi agak tua.
Tapi, yang paling menarik adalah pencantuman nama pengundang di bagian atas undangan. Itu tuh, yang dalam kurung. Kebaca kan? Yup. Ada tulisan Sampah. Setelah tanya-tanya, ternyata pengundang adalah seorang istri tukang sampah keliling di daerah kampung saya. Entah apa alasannya si pengundang mencantumkan profesi tersebut di undangan. Mungkin dia gak pede dengan nama aslinya atau mungkin ngerasa sang suami lebih ngetop dibanding dia. Gak tau juga.
Tapi yang pasti, dan amat saya hargai adalah kepercayaan dirinya untuk mencantumkan identitas pekerjaan sang suami. Yang mungkin bagi sebagian orang, sama sekali tidak keren. Ini juga diluar standar kebiasaan orang yang kalau mau bikin nama julukan untuk diri sendiri, cenderung pakai yang bagus-bagus. Misalnya Wati Cantik, Atau Budi Ganteng. Iya kan.
Biasanya, julukan yang jelek berasal dari lingkungan sekitar. Entah yang mendapat julukan setuju atau tidak, julukan itu tetap melekat. Seperti yang diceritakan Andrea Hirata dalam Maryamah Karpov, buku keempat tetralogi Laskar Pelangi tentang kebiasaan masyarakat Melayu di dearahnya.
Apapun itu, saya kok tetap tidak suka nama julukan. Baik yang bagus maupun yang jelek. Secara, untuk memberi nama, orang tua sudah susah payah mencari nama yang bagus, tidak pasaran, malah mungkin ada yang pakai selamatan tujuh hari tujuh malam juga.
Posted by: any on: March 14, 2009
Bisa membaca pikiran orang. Itu adalah permintaanku kalau ada petir menyambar, atau serangga yang mengigit, atau kebocoran nuklir yang menimbulkan mutasi gen seperti superhero-superhero yang ada di televisi itu. Eh, emang bisa milih ya? Eniwei. Menurutku, membaca pikiran itu kekuatan yang super keren. Misalnya nih, kita ketemu lawan model apapun, kalau kita bisa baca pikirannya, kita bakal bisa mengalahkannya. Iya kan. Dia mau nyerang ke kanan, kita udah bisa ngeles duluan. Dia mau lompat, eh kita bisa lompat lebih tinggi lagi. Keren kan.
Khayalan ini sering muncul gara-gara pas sekolah SMP dulu aku naik angkot dan berdesak-desakan dengan banyak orang. Seringkali aku ngeliatin mereka sambil nebak-nebak apa yang ada dipikirannya mereka. Terus kalau sekarang, setiap kali bertemu orang baru, aku langsung penasaran, apa ya, yang mereka pikirkan pas ngeliat wujudku. Well, secara namanya manusia. Pasti deh, langsung memberikan penilaian-penilaian berdasar wujud orang. Gak usah munafiklah. Semua juga begitu, tinggal bagaimana agar penilaian-penilaian itu tidak berujung pada penghakiman. Betul?
Nah tadi, khayalan ini muncul lagi pas ngobrol sama orang. Karena ngantuk banget gara-gara gak bisa tidur semalaman akibat ulah orang brengsek itu. Ya dia memang brengsek to the max. Mosok sukanya orang bikin nangis sih. Wis gak usah diperpanjang. Mari kita balik lagi ke khayalan. Hehehe.
Gara-gara ngantuk, aku tadi gak bisa konsentrasi pas ngobrol sama seseorang. Tiba-tiba saja dia berbicara tentang populasi kucing yang bisa meningkat mengalahkan manusia. Secara setiap beranak, kucing bisa langsung enam. Lha kok aku langsung bayangin kucing yang imut-imut itu berubah jadi monster terus liar dan membunuhi manusia. Orang-orang digigitin ampe berdarah dan mati. Hayah. mengerikan. Sampe begidik sendiri bayanginnya. Trus, orang yang bicara itu itu sepertinya tahu kalau aku gak fokus ama dia. Hehehe. Tapi dia gak enak mau negur. Langsung deh aku penasaran. Apa ya yang ada dipikirannya waktu ngeliat aku gak fokus?
Posted by: any on: March 10, 2009
Dan aku menangis. Hari ini. Untuk hal yang mestinya tidak perlu ditangisi seperti ini. Entah karena emosi menjelang menstruasi-yah perempuan emang lebih mudah menyalahkan kekacauan hormon menjelang tamu rutin ini-atau memang karena benar-benar kesal atas kelakuan fotografer yang satu itu.
Yang pasti aku sudah capek. Dengan orang yang tidak bisa memenuhi janjinya seperti itu. Apalagi sampai merugikan orang lain. Hmm. Semoga tuhan memberinya pencerahan agar dia menjadi orang yang lebih baik. Amin.
Posted by: any on: March 2, 2009
Hehe. Tadi sore, aku sukses nggeblak di jalan raya depan parkiran Delta alias Plasa Surabaya yang dekat WTC. Itu memang sepenuhnya salahku. Lha aku kan orangnya suka grusa grusu ndak karuan. Apalagi kalau lagi banyak pikiran. Agus aja sampe gak pernah mengijinkan istrinya tak boncengin. Hehehe. Takut kenapa-kenapa. Soalnya dia tahu bagaimana caraku berkendara. Nguawur puowl.
Tadi tuh habis liputan, aku kesusu pergi karena sudah ada janji dengan narasumber yang lain. Eh lha kok pas keluar parkiran aku gak pake tolah-toleh, jadinya nabrak deh. Kebetulan yang kutabrak ibu-ibu cerewet gitu. Sebenarnya sih sepedanya gak apa-apa. Cuman foot step nya aja yang bengkok. Tapi dia minta duit buat benerin. Lumayan, 50 ribu. Ya sudahlah, karena aku yang salah dan mungkin juga ibu itu sakit semua, kukasihlah.
Cuman, pas aku tabrakan, ada anak media lain yang ngeliat. Yang bikin aku sedih, kok dia gak mau nolongin ya. Dia cuman liat, memalingkan muka, terus pergi. Ya ampun. Padahal tadi kita barengan lho liputannya. Dan dia jelas-jelas tahu kalau aku yang jatuh. Tapi dia cuek beibeh. Hmm. Kenapa ya. Bapak-bapak penjual di jalanan itu aja gak kenal aku, tapi mereka langsung nolong.
Ya sutralah. Biar aja. Mungkin dia lagi gak sempet nolongin orang kali ya. Atau lagi sibuk. Cuman jadi catetan aja sih buat aku. Ntar kalo dia butuh bantuanku, gak bakal aku tolongin. Halah, kok aku jadi jahat gini yah. Gaklah. Wis mari. Kita lupakan saja.
Posted by: any on: March 1, 2009
Mulai detik ini, saya tidak lagi bermain fesbuk. Bukan apa-apa sih. Tiba-tiba saja saya malas mainan itu lagi. Gak ada alasan. Apalagi hujan atau angin. Hehehe. Nanti kalau saya sudah kepengen main lagi, ya sudah. Saya main. Gak ada alasan atau nunggu momen apa gitu. Ya wis. Begitu sajalah.
Posted by: any on: February 28, 2009
Bagaimana? Kenapa? Sampai Kapan? Tiga pertanyaan ini yang mendominasi percakapan kita malam itu. Percakapan ringan yang mengugat kehidupan. Bagaimana bisa dia mendapat itu, mereka kebagian ini sedangkan kita hanya kecipratan begini. Agak-agak ada bau iri dengki sih. Hehehe. Tapi ya namanya manusia. Siapa sih yang gak pernah iri dengki. Asal irinya membuahkan hasil positif seperti introspeksi diri dan memperbaiki kekurangan kan bagoes toh.
Eniwei, percakapan gak penting yang diselingi sesapan kopi hitam yang maknyus itu, menghasilkan satu kesepakatan. Bahwa tuhan, which is we believe in, sudah membuat satu jalur untuk masing-masing orang. Seperti track kalo lomba lari ituu. Trus meletakkan yang namanya jodoh, rejeki dan kematian pada jalur tersebut. Habis bikin jalur dan naruh orang di jalur tersebut, sudah, tuhan gak ikut-ikut lagi. Sekarang terserah orangnya.
Itu yang bikin kita berbeda dengan orang lain. Kalau kita jalannya, lurus, langsung deh nemu sesuai jadwal yang udah dibikin. Tapi kalau kita kadang nyampe tengah jalan terus bengong, ya udah kita gak dapet-dapet. Atau, mungkin tuhan naruh rejeki kita di satu kilometer pertama. Eh orang sebelah di kilometer kedua. Mungkin soal jodoh sebaliknya. Dan begitu seterusnya. Lha kalau kita gak mau jalan, atau bisa disebut sebagai usaha, itu juga bikin kita gak nyampe-nyampe. Iya toh.
In the end, kita ketawa-ketawa karena ternyata menyadari kita gak lari dengan konstan. Ada kalanya, kalau gak bisa dibilang sering, kita berhenti. Lalu melihat-lihat lingkungan sekitar. Eh ternyata keenakan. Lantas lupa meneruskan lari sampai akhirnya keingetan, teman-teman kita udah di depan. Tapi yang pasti, kita gak pernah nyerobot jalur orang lain. Gak pernah ngerebut jadwal rejeki, jodoh atau malah kematian milik orang lain. Meskipun agak jauh dan tergolong bumpy road, kita tetep pake jalur kita sendiri. bener kan pren? hehehehe.