Merindukannya

Berawal dari obrolan sederhana bersama seorang teman. Tentang nama untuk sosok yang saat ini tengah berada di rahim saya. Dan tiba-tiba saja, air mata menetes karena kerinduan yang teramat sangat pada orang yang telah tiga tahun lebih meninggalkan keluarganya. Ayah.

Any itu berasal dari ain, artinya mata. Kalau Rufaidah itu inspirasinya dari kata faedah artinya bermanfaat. Ayah ingin kamu jadi mata yang bermanfaat bukan buat diri sendiri, tapi orang lain. Begitu ayah bilang ketika saya tanya apa arti nama yang dipilihnya untuk anak keduanya tersebut. Jadi kalau ada yang bilang apalah arti sebuah nama, dia mungkin belum pernah bertanya pada orang tuanya atau si pemberi nama.

Dan ketika saya punya kesempatan untuk melihat bagian lain dari dunia, bukan hanya kota tempat saya lahir dan besar, kota tempat saya mengais rupiah, atau kota yang akan saya tinggali nanti bersama keluarga baru, ayah tersenyum bangga. Tapi itu tak pernah dikatakan pada anaknya yang sangat jarang menelepon untuk sekedar bertanya kabar.

Sahabat ayahnyalah yang bercerita, betapa dia bangga. Sebagai petugas kontrol karcis beristrikan penjahit di kampung, dia punya anak yang bisa melihat sebagian kecil negara-negara tetangga yang hanya dikenalnya melalui dunia dalam berita atau sederet cerita di surat kabar. Sesuatu yang tidak pernah dibayangkannya.

Cerita itu, yang disampaikan penuh haru, mengalir dengan lancar dari bibir sahabat ayah, saat dia berkunjung ke rumah saya untuk bertakziah. Dia datang segera setelah ayah tidak kuat lagi melawan kerusakan beberapa organ tubuhnya setelah setahun lebih terkena stroke.

Proyek Antimalas. Day 10

Uji Coba

Ini posting pertama saya menggunakan HP. Tepatnya sony Ericsson W880i. Kalau berita, sudah tak terhitung lagi yang saya hasilkan dengan cara mengetik di HP ini. Biar speaker luarnya rusak, saya tetep cinta mati sama dia. Malah kalau boleh dibandingkan, dia jauh lebih oke daripada LG Optimus dengan sistim android yang setahun ini juga menemani saya. Ternyata jempol saya yang jauh dari ukuran mungil tak bisa berkawan dengan touchscreen atau qwerti. Jika ingin diurut, banyak sekali keunggulan HP berbentuk candybar ini. Yang pertama, saya bisa ber-sms hanya dengan satu tangan. Sehingga tangan satunya bisa mengerjakan yang lain alias multitasking. Kedua, jaringan internetnya tidak bisa otomatis menjalankan sinkronisasi beberapa akun saya di jejaring sosial. Artinya saya hemat pulsa internet. Yang ketiga, dia terbukti tahan banting. Kecemplung kobokan atau terlindas motor tak mampu membuatnya tewas. Soal bentuknya yang tak sesuai tren. Tak masalah bagi saya. Yang penting fungsi bukan gengsi.

Proyek Antimalas. Day 9

Thank you

Ketik satu kata, dua kata. Hapus. Ketik satu kata dua kata. Hapus. Itu yang saya lakukan malam ini ketika ingin membuat tulisan tentang orang-orang yang selama ini menjadi teman terbaik dalam hidup. Saya benar-benar tidak tahu kata-kata apa yang tepat untuk menceritakan betapa hebatnya mereka. Kapan saja, mereka menyediakan jarinya untuk membalas pesan saya berisi pertanyaan atau curhatan tidak penting. Merelakan salah satu telingnya kepanasan untuk menerima telepon saya. Tidak sayang membuang pulsanya sejumlah rupiah untuk menghubungi dan menghibur saya saat gundah gulana. Atau jauh-jauh datang ke rumah sakit, melewati semua kemacetan, menilap sedikit jam kerja untuk memastikan saya baik-baik saja.

Saya cinta mereka. Saya cinta dengan kesabaran mereka. Keterusterangan mereka. Keganasan mereka saat saya mulai membandel dan tidak mau mendengarkan kata-kata mereka. Meski begitu, semarah apapun, mereka akan merentangkan tangan, memeluk, lantas menepuk punggung saya dan meyakinkan semua akan baik-baik saja. Mereka adalah manusia. Tidak selamanya hubungan kita baik. Kekurangajaran saya tak jarang melewati batas toleransi mereka. Tapi rasa sayang yang lebih besar hingga maaf, pemakluman, bisa langsung muncul dari hati mereka. Yang saya tahu, saya cinta mereka. Dan menyayanginya seperti keluarga.

The language of friendship is not words but meanings.
- Henry David Thoreau -

Proyek Antimalas. Day 8

Selamat Datang

Emaaaaaak. Sumpah saya benci diri sendiri karena bikin proyek ini. Menulis setiap hari itu sulit kakaaak. Apalagi baru bisa buka netbuk kalau sudah pulang kantor. Itupun sambil ditemani dengan suara protes swami. Maklum, beda jam kerja. Kita baru ketemu kalo saya pulang kantor. Which is jam 9-10 malam dan dia sudah teler karena ngantuk. Hehehe.

Anyway, sekarang ini saya lagi seneng banget-banget. Ada makhluk mungil yang bakal tumbuh bareng saya, sampai dia benar-benar melihat dunia sembilan bulan lagi. Rasanya lucu dan aneh di badan. Kata dokter, itu normal karena hormon saya lagi berantakan. Dengan adanya anggota baru, tubuh melakukan banyak penyesuaian dengan mengeluarkan hormon ini dan itu. Jadi bakal ada aja keluhannya. Yang paling terasa sekarang adalah perut kembung, sering sendawa plus buang angin. Ini sih tergantung masing-masing individu. Ada yang ketambahan morning sickness, ada juga yang enggak. Biasanya, setelah bulan ketiga, tubuh sudah bisa merasa nyaman. Jadi keluhan akan sedikit berkurang. Apapun itu, saya suka dan rela demi si kecil yang sudah ditunggu lama.

Cuman, saya agak sedikit khawatir karena ada riwayat keguguran. Takut kalau si kecil sudah pengen keluar sebelum waktunya. Tapi dokter bilang saya nggak boleh khawatir atau stress, nanti mempengaruhi pertumbuhan si kecil. Kalau bisa, nggak boleh capek dan perasaannya juga dijaga biar seneng terus. Hmm, berarti saatnya menjadwalkan karaoke, nonton dan ngemol. Yippie. Kita hore hore bareng ya nak. Ikut nggosip sama geng ngibul juga. Hahaha. Semoga kamu betah berdua-duaan terus sama ibu.

Proyek Antimalas. Day 7

Implantation Bleeding

Istilah ini kuperoleh dari dokter tadi sore. Artinya pendarahan yang terjadi ketika sel telur yang sudah dibuahi menempel pada dinding rahim. Ini biasanya terjadi pada awal masa kehamilan. Mestinya, volume darah yang keluar hanya sedikit. Tapi pada kasus tertentu bisa dua atau tiga hari. Bentuknya seperti bercak-bercak. Kadang, kejadiannya bersamaan dengan periode menstruasi seseorang. Dengan catatan, periodenya teratur setiap bulan. Karena itu, kerap perempuan tidak menyadari dirinya sedang hamil. Sebab, menganggap implantation bleeding sebagai menstruasi.

Mereka yang pernah mengalami keguguran, sebaiknya waspada. Jika sedang menjalani program kehamilan, tidak ada salahnya berhati-hati dengan semua pendarahan yang terjadi. Sediakan stok test pack yang banyak. Jika terjadi pendarahan, sedikit dan jarang, yang terjadi pada periode seharusnya menstruasi, sebaiknya langsung tes urine. Takutnya, sedang hamil tapi lemah dan tidak mendapat pertolongan secepatnya. Kalau masih ragu, bisa langsung memeriksakan diri ke dokter kandungan.

Proyek Antimalas. Day 6

Kangen Banget Banget

Itu adalah judul salah satu tulisan yang termuat dalam halaman Letter to Him yang terbit setiap Sabtu di media tempat saya bekerja beberapa waktu lalu. Gara-gara tulisan tersebut, sepasang suami istri bertengkar dan protes kepada saya. Si suami marah dan menuduh istrinya adalah penulis surat yang bercerita tentang kekangenan seorang perempuan terhadap mantan pacarnya tersebut. Sementara sang istri bersikukuh mengaku tidak bersalah.

Saya merasa dilema ketika si istri menghubungi dan meminta saya menjelaskan kepada sang suami, bahwa dia bukanlah penulis surat tersebut. Untuk halaman surat menyurat tersebut, memang tidak ada keharusan penyertaan identitas pengirim karena isinya tidak merujuk pada pihak yang spesifik. Hanya semacam curahan hati seorang perempuan. Bisa fiksi maupun nonfiksi. Tidak ada kemungkinan unsur pencemaran nama baik.

Karena itu, ketika si suami saya minta menjelaskan dimana unsur yang membuatnya yakin bahwa penulis adalah istrinya, dia tidak tahu. Yang dia katakan, nama pengirim mirip dengan nama istrinya. Itu saja. Akhirnya mereka saya minta untuk datang ke kantor dan melakukan verifikasi email yang dipakai untuk mengirim surat tersebut, sang suami menolak. Dia hanya mengatakan bahwa dia yakin itu adalah istrinya. Itu saja.

Saya lantas berpikir. Kenapa sang suami bisa mencurigai istrinya? apakah memang sebelumnya ada kasus atau bagaimana? Kalau tidak, apakah memang sang suami terlalu posesif sehingga curiga terhadap istrinya? Sayangnya pertanyaan-pertanyaan itu tidak terjawab karena saya tidak sempat bertemu dengan keduanya. Saya hanya berdoa, pernikahan mereka baik-baik saja dan perselisihan berdasar tulisan tersebut bisa diselesaikan dengan tanpa ada keputusan yang merugian kedua pihak.

Proyek Antimalas. Day 5

Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung.

Setiap bepergian ke luar negeri, saya selalu menyempatkan diri makan di restoran siap saji. Bukan karena saya tidak kreatif mencari makanan, tapi karena saya penasaran dengan penyesuaian menu yang mereka lakukan. Dari beberapa tempat, yang paling saya suka adalah KFC di Bangkok ini. Mereka punya egg tart yang kebetulan kudapan favorit saya. Plus ada ayam bumbu rujak yang rasa asam manisnya pas di lidah. Ada bau-bau daun ketumbar yang jadi khas masakan Thailand, tapi tidak terlalu kuat. Jadi saya masih bisa menoleransi. Ayam dengan potongan jamur es, timun, bawang merah dan beberapa jenis sayur itu jugaa tidak terlalu mahal. Harganya samalah kayak sepaket makanan di restoran siap saji.

Saya lantas membayangkan. Mestinya mereka juga melakukan penyesuaian menu di Indonesia. Kira-kira khas masakan Surabaya apa ya? Petis rasanya. Mungkin bikin menu mirip rujak cingur aja kali ya. Jadi bikin sayur-sayuran, ditambah potongan ayam krispi, lalu disiram dengan bumbu rujak petis. Pasti nyamleng ya.

Proyek Antimalas. Day 4

Saya Benci…

Dari sekian banyak promosi penjualan, yang paling saya benci adalah beli 1 gratis 1. Soalnya memaksa kita untuk konsumtif. Bayangkan. Mau tidak mau kita harus beli dua. Padahal hanya butuh satu. Toh kalaupun maksa beli satu, kita bakal rugi karena barang gratisnya tidak kita ambil. Terpaksa milih barang kedua biar tidak menghilangkan bonus kita. Kadang barang yang kita suka harganya lebih tinggi. Jadilah kita membayar harga yang tertinggi. Ya toh. Kalaupun maksa barang yang harganya sama, kadang tidak sesuai dengan selera.

Kalau produsen memang ingin memberi treatment khusus ke costumer, kenapa tidak kasih saja rabat 50 persen. Tapi ya, namanya penjual, ingin untung setinggi-tingginya. Teman saya yang pengusaha memang mengaku, program beli satu gratis satu jauh lebih menguntungkan ketimbang hanya memberi diskon.

Eh sebenernya ada satu lagi sih yang bikin saya mangkel. Beli nominal tertentu untuk mendapatkan voucher nominal tertentu. Lagi-lagi ini membangkitkan hawa nafsu berbelanja yang memang sudah ada pada diri setiap manusia. Halah. Dengan alasan eman, mereka akan membelanjakan voucher yang sudah di dapat. Eh sudah belanja, dapat voucher lagi. Begitu seterusnya. Seperti lingkaran setan.

Sepertinya dua program itu menguntungkan pembeli. Mungkin iya untuk mereka yang berbelanja dengan logika. Masalahnya, lebih banyak yang belanja hanya untuk menuruti hawa nafsu. Jadinya, uang yang dikeluarkan kadang membengkak. Sekarang apa yang harus kita lakukan kalau berada dalam posisi tersebut? Kasih vouchernya ke orang lain, atau langsung buang dan yakinkan diri bahwa kita enggak butuh barang banyak. Well. Setidaknya itu yang berhasil saya lakukan.

Proyek Antimalas. Day 3

Becoming Darjorian. Soon

Aaaak. Sudah hari ketiga aja. Mata udah sepet sebenarnya. Tapi demi menjaga konsistensi, menulis harus jalan terus. Kenapa juga saya memulai proyek ini *tepok jidat*. Baiklah mari kita mengumpulkan kemauan dan semangat menulis.

Belakangan ini saya dan suami lagi beberes rumah mungil yang Insya Allah akan kami tempati akhir tahun nanti. Artinya kami akan segera menjadi Darjorian alias warga Sidoarjo. Sebenarnya separuh Darjorian sih, mengingat sebagian besar waktu kami akan dihabiskan di Surabaya untuk bekerja. Palingan kami berada dikota yang dipimpin Bupati Syaiful Ilah itu hanya untuk tidur dan mandi pagi. Plus mandi sore. Kalau nggak males.

Nah, saat beberes inilah saya menemukan bahwa printilan rumah itu ternyata cukup menguras kantong. Mulai dari sendok sayur, mangkuk, teko dan teman-temannya. Kalau dibeli secara barengan, maka jumlahnya lumayan juga. Apalagi printilan yang satu ini. Eh, sebenarnya dia bukan printilan sih karena dia berukuran besar. Tapi dia juga bukan perabotan. Tapi kalau tidak ada dia, rumah bakal terlihat telanjang. Apakah dia? Yak benar. Dia adalah gorden. Ada yang bilang korden, gordyn, tirai atau tabir. Tapi kalau menurut bahasa Indonesia sih gorden.

Beberapa teman sudah memperingatkan jika benda yang satu ini mahal juga. Tapi saya berhasil mendapat rekomendasi seorang pedagang yang harganya miring. Tadi siang kami janjian. Dan saya agak menyesal karena dia sedang hamil 8 bulan dan harus nyasar-nyasar sebelum sampai ke rumah saya. Keyakinan jika saya tidak akan membayar mahal muncul karena jendela rumah saya tidak terlalu lebar. Tapi setelah lebar kain dikali jumlah plead, ditambah bagian lipatan, dan sebagainya, nominal senilai separo gaji saya pun muncul di kalkulator mbaknya. Ouch.

Seorang teman bilang, rumah itu adalah setan. Sebab, dia tidak akan pernah berhenti menuntut perhatian, baca: uang, dari kita. Sudah beli sofa, eh kayaknya lucu dikasih karpet, sudah beli karpet, eh ditambah standing lamp keren juga. Dan sebagainya. Sekarang saya mulai agak percaya kalau ucapan teman itu benar juga. Hiks.

Proyek Antimalas. Day 2

Biaya Belajar

Hari ini saya melakukan pengakhiran polis unit link di salah satu perusahaan asuransi yang lumayan besar dan terkenal. Memang sih di luar sana sedang ramai pro kontra tentang unit link, tapi alasan penutupan saya bukan karena itu. Saya merasa produk tersebut tidak sesuai dengan yang saya butuhkan. Ini murni kesalahan saya karena tidak cerewet bertanya atau meng-google lebih dulu tentang produk tersebut sebelum memutuskan untuk mengambilnya.

Jadi awalnya saya ingin berinvestasi. Datanglah tawaran investasi sekaligus asuransi. Saya sempat bertanya dan sedikit membandingkan, namun karena banyaknya istilah yang menurut saya rumit plus yang menawarkan adalah sahabat, akhir kata, saya pun mengambilnya. Sebenarnya sejak awal saya merasa agak aneh karena uang yang diinvestasikan hanya 20 persen pada tahun pertama, lalu naik menjadi 30 persen, 50 persen, 70 persen dan kemudian 100 persen. Tapi katanya, uang yang hilang merupakan instrumen biaya yang memang diambil di depan. Jadi berikutnya, saya akan bebas biaya.

Tapi jeng jeng, ketika laporan per enam bulan masuk. Saya tetap kena biaya. Dan jumlahnya cukup banyak. Ketika pertama saya punya 100 unit, dan enam bulan berikutnya tinggal 90 unit. Nah loh, saya kan bingung. Kalau kerugian tersebut karena naik turun harga unit, mungkin saya masih oke. Namanya juga investasi. Lah ini malah karena biaya. Bingunglah saya. Mungkin ada yang bilang unit link adalah investasi jangka panjang, tapi kalau hanya dalam enam bulan yang hilang cukup banyak, maka saya ragu bisa mendapat keuntungan.

Setelah browsing kesana kemarin, saya memutuskan untuk menutup produk tersebut senyampang kerugian saya masih belum banyak. Masih tahun pertama. Kenapa saya tutup, alasan terbesar adalah saya pilih produk dengan investasi sebagai komposisi terbesar. Premi asuransinya sangat kecil. Karena itu uang pertanggungannya juga kecil. Plus, produk tersebut tidak ada keuntungan tambahan lainnya. Nah daripada begitu, mending saya pilih asuransi jiwa plus kesehatan. Sedangkan investasi, saya bisa pilih produk lainnya.

Kata petugas yang saya tanya, unit link itu menguntungkan asal dananya cukup besar. Sebab, ketika uang yang diinvestasikan melebihi nominal uang pertanggungan, maka instrumen biaya akan hilang. Thus, investasi unit link bisa jadi maksimal karena tidak ada potongan. Atau dengan sering top up alias memasukkan dana tambahan diluar premi yang ditentukan. Untuk pegawai seperti saya yang penghasilannya tetap tiap bulan, top up cukup sulit karena gaji sudah teralokasi untuk berbagai kebutuhan.

Karena saya tutup, premi yang telah dibayarkan jelas hilang. Sedih sih karena nominalnya lumayanlah kalau buat saya. Tapi tidak apa-apa. Saya anggap itu sebagai biaya belajar. Yang saya share disini murni pengalaman pribadi. Soal pro kontra, saya tidak mau ikut masuk di dalamnya. Lagi pula, mungkin saya tidak cocok dengan unit link karena tidak sesuai dengan kebutuhan. Mungkin ada orang lain yang cocok karena kebutuhan masing-masing individu pasti berbeda. So, pertimbangkan dulu masak-masak sebelum ambil atau menutup unit link.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.