Rumah Any

kupu-kupu

Posted by: any on: January 10, 2010

Kayaknya bentar lagi kamu jadi kupu kupu deh. Begitu kata seorang teman kepada saya beberapa kali. Kalimat tersebut muncul karena dia melihat saya berubah. Tidak lagi meledak-ledak. Tidak lagi menye-menye menghadapi sindirian banyak orang tentang saya yang masih sendiri sampai saat ini. Perubahan itu dia ibaratkan kepompong yang akan berubah menjadi kupu-kupu.

Teman itu memang tahu benar siapa saya. Tiga tahun lebih, meja kita bersebelahan di kantor. Membuat kita leluasa membicarakan banyak hal. Mulai dari infotainment ala kantor, sampai dengan masalah keluarga. Satu dari banyak kesamaan diantara kita adalah sama-sama sudah tidak punya ayah. Meski kini meja kita terpisah, kedekatan itu tidak berubah. Bahkan dia sudah saya anggap seperti saudara.

Mungkin teman saya benar. Belakangan, saya merasa tidak lagi mudah marah. Entah kenapa. Setiap kali mendengar kabar yang tidak mengenakkan, saya hanya tersenyum. Tidak ada sumpah serapah yang biasanya langsung meluncur tanpa kontrol. Begitu pula ketika saya berkumpul dengan beberapa teman yang sibuk membicarakan rencana pernikahan  dengan seseorang yang baru saja mereka kenal. Selintas muncul rasa iri. Bohong kalau tidak. Tapi kemudian, saya meyakinkan diri bahwa giliran saya akan tiba. Entah kapan. Tapi saya percaya kepada Tuhan. Dia akan memberikan yang terbaik bagi saya. Kehidupan saya selama 20 tahun lebih telah membuktikannya. Selalu saja ada kejutan atau bantuan yang terulurkan di saat yang tepat. Toh pernikahan bukan lah akhir dan segalanya. Menikah tidak menjadikan seseorang lebih baik dari yang lain. Begitu sebaliknya. Itu hanya fase yang akan dilalui semua orang. Hanya waktunya yang berbeda-beda.

Saya memang bukan orang yang pintar mengutip ayat-ayat dalam kitab suci. Tidak banyak yang saya hapal. Pun bukan orang yang selalu genap menghadapnya lima waktu. Saya tahu itu salah dan berusaha memperbaikinya. Tapi saya selalu berusaha berdialog dengan Tuhan. Sebisa saya. Dengan bahasa yang saya pahami sehingga maksud saya tersampaikan. Setiap saat. Sehari bisa berpuluh kali saya bicara kepadanya. Entahlah, saya merasa itu lebih membuat saya nyaman.  Mungkin itu juga yang membuat saya lebih mudah menghilangkan amarah. Tidak sepenuhnya hilang memang. Tapi jauh berkurang dari sebelumnya. Semoga saja teman saya benar. Saya bisa berubah menjadi orang yang lebih baik.

dunno

Posted by: any on: December 12, 2009

feels like everybody hates me

and the result is

Posted by: any on: November 21, 2009

Sendiri. Hahaha. Setelah semua kekacauan ini, hasilnya adalah saya sendirian. Ealah. Ya sudahlah. Meski harus mengalami semua mbuletisasi, saya tidak patah semangat. Terus mencari laki-laki yang paling pas di hati untuk dinikahi eh menikahi saya. Hehehehe.

ikhlas

Posted by: any on: November 12, 2009

Ikhlas? Bisakah? Sepertinya tidak mudah. Dulu, aku bersusah payah meninggalkanmu dan melepas bayang-bayangmu. Aku berhasil. Paling tidak kukira begitu. Itulah kenapa, sepuluh tahun kemudian. Kamu datang lagi. Aku menerimamu dengan tangan terbuka. Karena kukira aku bisa ikhlas menerima semuanya. Masa lalu itu. Tapi ternyata kamu masih bisa melukai hatiku. Dengan cara yang sama. Bodohnya aku. Mungkin aku harus kembali melakukan langkah yang sama. Pergi dan memulai hidup baru, entah dimana.

Aneh

Posted by: any on: July 18, 2009

Gak tau nih, rasanya belakangan ini aku aneh. Aku membenci teman-temanku. Padahal mereka tidak salah apa-apa. Mereka biasa saja dan bersikap normal. Tapi nggak tahu. Rasanya eneg. Kenapa ya? Bahkan sama mereka yang sudah kuanggap seperti sodara sendiri aja, aku malas berbicara. Kalaupun ngomong, aku cenderung kasar. Pun sama keluarga. Kalau ada telepon dari rumah, aku males banget ngangkatnya. Duuh. Kenapa sih aku ini. Apakah ini tanda-tanda aku mulai gila?

Maafkan aku

Posted by: any on: June 9, 2009

Maafkan aku ya blog. Sudah lama kamu ndak tak apdet. Sebenarnya niat sih, tapi suka keburu males. Bayangin aja, ada enam tulisan tak terselesaikan di draft kamu. Hehehe. Kayaknya aku lebih asik ngeblog di fesbuk meski situs itu diblok sama admin IT kantor. Coba deh. Ini tulisan kan sampe beres, berarti aku masih bisa nulis di kamu. Ntar besok tak coba nulis lagi yaa.

wak dul

Posted by: any on: March 29, 2009

Sambil gemetar, tangannya yang keriput mengangkat kamer Ricoh KR5 yang bagian bawah kanannya, bertempelkan isolasi hitam. “Van, Evan lihat sini,” katanya sambil mendekatkan lubang fokus kamera ke mata kirinnya. Bersamaan dengan hitungan ketiga, Evan yang dipangku sang papa, tersenyum. Tak lama kemudian, pria dengan topi model koboi yang usianya pasti sudah tahunan itu berteriak. “Yak sudah.”

Pria yang menenteng kamera itu bernama Abdul Manan. Aku dan sebagian besar tetangga di kampung menyebutnya Wak Dul. Dia adalah fotografer keliling yang menjajakan jasanya sejak 1970 tahun. Tadi, ketika menimba air di tandon tetangga sebelah gara-gara air PDAM mati sebulan, aku dan kakakku melihatnya lewat di kampung. Dulu, ketika masih TK, kami berdua pernah difoto olehnya. Sekarang, kami ingin bernostalgia dengan kembali memintanya memotret kakakku, dengan Evan, anaknya yang sebentar lagi berulang tahun yang kedua.

Sebelum memberinya selembar sepuluh ribuan sebagai imbalan atas jasanya, kami memintanya duduk. Dengan suguhan aqua gelas dingin, kami memintanya bercerita tentang perjalanan hidupnya. “Dulu saya sempat kerja di pabrik, tapi ndak kerasan. bosnya mentang-mentang,” kata pria berusia 70 tahun itu. Karena tidak suka, dia mengundurkan diri dan menjadi fotografer keliling karena waktu itu, bisnis ini menjanjikan. Tidak banyak orang yang punya kamera. Apalagi kamera digital atau kamera handphone. Meski tidak ada pemasukan tetap, profesi barunya bisa membuatnya hidup tenang bersama istri dan keenam anaknya.

Kini, anak-anaknya sudah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri. Tapi Pak Dul tetap setia dengan profesinya. Pagi-pagi, kakek tiga cucu itu meninggalkan rumahnya di Karang Turi, berjalan menjajakan jasanya dari satu kampung ke kampung lainnya. Pria yang selalu mengenakan kaos abu-abu itu mengaku lebih suka bertahan dengan kamera Ricoh yang kini dibawanya. Dia sempat mencoba kamera digital. Tapi tidak suka. Tidak fokus katanya. “Kalau kamera digital, kalau motret orang, lubang hidungnya bisa jadi empat,” ujar pria asli Gresik itu. Yah, mungkin dia tidak tahu tentang kamera dlsr dengan lensa beraneka ragam seperti milik fotografer di tempatku bekerja. Tapi tak apalah, aku tak mau membantahnya.

“Kalau sekarang, orang banyak yang punya kamera. Paling sehari saya cuma bisa dapat lima. Tapi kalau ada mantenan lumayan, satu rol saya hargai Rp 250 ribu,” katanya sambil meraih gelas aqua dingin lantas memasukkannya ke tas kamera. “Wis dilakoni ae mbak. Saya tak keliling lagi. Nanti fotonya jadi lima hari lagi, tapi kalau tiga hari sudah jadi, saya antar kesini,” janjinya sambil mengulurkan tangan untuk menjabat. Kami tersenyum dan menyerahkan lembaran sepuluh ribuan. Seperti apa hasil foto Evan nanti, tidak lagi jadi perhatian. Yang penting kami senang, bisa bernostalgia dengan orang yang pernah menjadi perekam salah satu episode kehidupan kami.

lebih baik?

Posted by: any on: March 21, 2009

Apakah aku atau dia berkata sebenar-benarnya? Ataukah itu hanya basa-basi karena tidak ada pilihan? Apakah kita benar-benar saling peduli? Atau itu hanya satu dari ribuan topeng yang kita pakai?

Mengapa manusia selalu merasa lebih baik jika ada orang yang berada di bawahnya? Kenapa kita harus bersyukur saat tahu bahwa ada orang lain yang hidupnya lebih susah? Kenapa kita tidak bisa bersyukur atas apa yang ada tanpa harus membandingkan dengan yang lainnya? Kenapa harus alhamdulillah kita bisa naik gaji sementara yang lain belum bekerja? Bukannya lebih baik jika hanya alhamdulillah atas kenaikan gaji yang kita terima?

apalah arti sebuah nama?

Posted by: any on: March 16, 2009

undanganSebelumnya, maafkan atas kualitas foto yang jelek ini. Mungkin teman-teman pecinta fotografi bisa eneg melihat gambarnya kabur-kabur begitu. Maklum, diambil dari kamera henpon soner w880i milik saya. Juga, maafkan atas kemunculan jempol tangan kiri yang, masya allah, gede banget ya. Hehehe. Baiklah, ke pokok masalah saja.

Tadi siang, saya lagi asik tidur-tiduran waktu seorang bocah kecil berteriak lalu menyerahkan undangan untuk ibu saya. Isinya, mengharap kehadiran ibu dalam sebuah pesta pernikahan di rumah salah satu tetangga di kampung sebelah. Biasalah. Fisik undangan juga standar. Selembar kertas yang ketebalannya mirip kuarto warna ijo.  Ukurannya  sekitar 20 cm kali 15 cm. Dengan tulisan warna ijo juga, tapi agak tua.

Tapi, yang paling menarik adalah pencantuman nama pengundang di bagian atas undangan. Itu tuh, yang dalam kurung. Kebaca kan? Yup. Ada tulisan Sampah. Setelah tanya-tanya, ternyata pengundang adalah seorang istri tukang sampah keliling di daerah kampung saya. Entah apa alasannya si pengundang mencantumkan profesi tersebut di undangan. Mungkin dia  gak pede dengan nama aslinya atau mungkin ngerasa sang suami lebih ngetop dibanding dia. Gak tau juga.

Tapi yang pasti, dan amat saya hargai adalah kepercayaan dirinya untuk mencantumkan identitas pekerjaan sang suami. Yang mungkin bagi sebagian orang, sama sekali tidak keren. Ini juga diluar standar kebiasaan orang yang kalau mau bikin nama julukan untuk diri sendiri,  cenderung pakai yang bagus-bagus. Misalnya Wati Cantik, Atau Budi Ganteng. Iya kan.

Biasanya, julukan yang jelek berasal dari lingkungan sekitar. Entah yang mendapat julukan setuju atau tidak, julukan itu tetap melekat. Seperti yang diceritakan Andrea Hirata dalam Maryamah Karpov, buku keempat tetralogi Laskar Pelangi tentang kebiasaan masyarakat Melayu di dearahnya.

Apapun itu, saya kok tetap tidak suka nama julukan. Baik yang bagus maupun yang jelek. Secara, untuk memberi nama, orang tua sudah susah payah mencari nama yang bagus, tidak pasaran, malah mungkin ada yang pakai selamatan tujuh hari tujuh malam juga.

Wild Dream

Posted by: any on: March 14, 2009

Bisa membaca pikiran orang. Itu adalah permintaanku kalau ada petir menyambar, atau serangga yang mengigit, atau kebocoran nuklir yang menimbulkan mutasi gen seperti superhero-superhero yang ada di televisi itu. Eh, emang bisa milih ya? Eniwei. Menurutku, membaca pikiran itu kekuatan yang super keren. Misalnya nih, kita ketemu lawan model apapun, kalau kita bisa baca pikirannya, kita bakal bisa mengalahkannya. Iya kan. Dia mau nyerang ke kanan, kita udah bisa ngeles duluan. Dia mau lompat, eh kita bisa lompat lebih tinggi lagi. Keren kan.

Khayalan ini sering muncul gara-gara pas sekolah SMP dulu aku naik angkot dan berdesak-desakan dengan banyak orang. Seringkali aku ngeliatin mereka sambil nebak-nebak apa yang ada dipikirannya mereka. Terus kalau sekarang, setiap kali bertemu orang baru, aku langsung penasaran, apa ya, yang mereka pikirkan pas ngeliat wujudku. Well, secara namanya manusia. Pasti deh, langsung memberikan penilaian-penilaian berdasar wujud orang. Gak usah munafiklah. Semua juga begitu, tinggal bagaimana agar penilaian-penilaian itu tidak berujung pada penghakiman. Betul?

Nah tadi, khayalan ini muncul lagi pas ngobrol sama orang. Karena ngantuk banget gara-gara gak bisa tidur semalaman akibat ulah orang brengsek itu. Ya dia memang brengsek to the max. Mosok sukanya orang bikin nangis sih. Wis gak usah diperpanjang. Mari kita balik lagi ke khayalan. Hehehe.

Gara-gara ngantuk, aku tadi gak bisa konsentrasi pas ngobrol sama seseorang. Tiba-tiba saja dia berbicara tentang populasi kucing yang bisa meningkat mengalahkan manusia. Secara setiap beranak, kucing bisa langsung enam. Lha kok aku langsung bayangin kucing yang imut-imut itu berubah jadi monster terus liar dan membunuhi manusia. Orang-orang digigitin ampe berdarah dan mati. Hayah. mengerikan. Sampe begidik sendiri bayanginnya. Trus, orang yang bicara itu itu sepertinya tahu kalau aku gak fokus ama dia. Hehehe. Tapi dia gak enak mau negur. Langsung deh aku penasaran. Apa ya yang ada dipikirannya waktu ngeliat aku gak fokus?


  • None
  • fahmi!: sometimes i feel the same
  • any: iya mi. kenapa ya, meskipun kita sudah "merasa" memaafkan atau melupakan, tetap saja, kalau terungkit lagi, rasanya masih sakit bukan main. hiks hiks.
  • fahmi!: wah perkoro ati iki... ikhlas itu memang hal yg amat sulit dilakoni mbakyu. dan ikhlas tidak sama dg pasrah. wish you the best lah :)

Categories